Rifky Apriadi

March 18, 2008

Elegi Sebuah Keputusan

Filed under: Artikel
       Elegi Sebuah Keputusan
                                                                                                   
Di hadapanku kini sedang menangis seorang gadis bernama Dewi, pacarku yang hubunganku dengannya telah terjalin selama delapan bulan. Dalam isaknya yang menurutku begitu cengeng, ia memintaku untuk tidak mem-PHK-nya dari jabatan sebagai seorang pacarku.
"Jangan putusin Dewi ya, Andri…" Ujarnya sambil terisak.
Aku mengambil sebuah gelas yang terletak di atas meja yang memisahkan aku dan Dewi saat ini, kemudian meneguk airnya beberapa tegukan.
"Hhh… Dewi…" Ujarku setelah selesai aku minum. "Kenapa sih cuma sama kegiatan-kegiatanku aja kamu sampe cemburu?" Lanjutku sembari menaruh gelas itu kembali ke samping sebuah piring yang berisi nasi goreng hidangan Cafe Yayang yang sebenarnya telah dihidangkan dua menit yang lalu kepada kami berdua. Namun selera kami belum bangkit untuk segera menikmatinya.
"Kalau kegiatan-kegaitanmu selama ini bisa menjauhkan aku dengan kamu, jelas aku cemburu." Jawabnya.
Aku menunduk sambil menghisap nafas dalam-dalam, mencari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada Dewi, yang aku mengenalnya melalui sebuah perjumpaan yang sangat modern, melalui chating.
Mulanya hanya main-main saja ketika aku men-double klik sebuah nama yang terpampang di channel #Padang, yang menurutku cukup unik, ce-elok. Maka obrolan melalui ruang maya yang menjadi awal perkenalanku padanya pun dimulai setelah aku menuliskan kalimat, "He jangan ngelamun, elok-elok kok ngelamun. Beko kok lah tasapo baru tau raso."
Percakapan mulai seru ketika setelah kami menyerahkan data asl [age, sex, location] kami masing-masing, kami menemukan kesamaan umur dan tempat. Hanya jenis kelamin saja yang berbeda. Selanjutnya humor-humor segar mengalir melalui komputer kami masing-masing Dan begitulah, terjadi jawab menjawab antara kami hingga ketika sudah saatnya bagiku untuk gtg [Get to go], aku meninggalkan emailku padanya yang ketika tiga hari kemudian aku kembali ke warnet untuk memeriksa emailku, rupanya telah ia kirim sebuah surat perkenalan.
Email darinya kiranya terus datang setelah aku meladeni satu-persatu email-emailnya yang masuk padaku. Mulanya isi surat-surat elektronik kami hanyalah berupa perkenalan identitas diri saja seperti apa hobi, kegiatan, sampai binatang peliharaan kami. Namun yang terjadi selanjutnya rupanya tidak cukup sebatas perkenalan diri semata.
Yang membuatku heboh - meski ini sudah ku duga sebelumnya - ia meminta fotoku. Maka dengan berbekal PeDe yang cukup tinggi, aku kirim sebuah fotoku yang paling gagah, foto ketika aku berhasil menaklukan puncak gunung Merapi [Gunung Merapi yang terletak di Sumatera Barat]. Dan ia pun balas memberikan foto, sebuah foto yang menggambarkan seorang gadis cantik di sebuah taman bunga yang entah di mana, aku tak tahu. Aku tak mengira, ia begitu cantik. Sesuai dengan nicknya selama ini, ce-elok. Perkenalan kami rasanya tanggung sekali rasanya kalau tidak ada kopi darat. Maka kopi darat antara kami terjadi di sebuah kafe yang bernama Café Yayang yang tak jauh dari rumahnya di Lapai - daerah terkenal di Padang - pada sabtu sore di mana saat itu ia datang dengan mengenakan baju merah mawar yang makin mempercantik dirinya.
Kopi darat hanyalah gerbang menuju perjumpaan rutin selanjutnya yang selalu sama, tempat dan saatnya. Kadang kami juga bertemu di warnet tertentu untuk bermain internet bersama-sama.
Besarnya frekuensi pertemuan kami menyebabkan kami pun sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dekat: pacaran. Maka dua bulan sebelum Ebtanas, kami telah berjanji di Cafe Yayang pada suatu sore di hari sabtu untuk - yang kata remaja saat ini - ‘jadian’.
Begitulah, hubungan pacaran kami lancar-lancar saja sampai ketika hasil UMPTN diumumkan dan hasilnya aku lulus di matematika Universitas Andalas, sedangkan ia lulus di Sastra Inggris Universitas Negeri Padang. Perbedaan kampus tak menghalangi pacaran kami karena toh selama ini kami juga beda sekolah.
Waktu terus bergulir, perlahan aku mulai tertarik untuk aktif di organisasi di kampus ini. Semua kegiatan dari setiap organisasi di MIPA ini telah aku ikuti. Dan karena kawan-kawan di jurusanku banyak yang ikut Forum Studi Islam, maka berbekal ikut-ikutan, aku mulai rajin mengikuti kegiatan FSI itu.
Kegiatan-kegiatan itu benar-benar menambah pengetahuan agamaku. Bahkan aku mulai mengerti aturan Islam mengenai pergaulan laki-laki dan wanita.
Sebabnya kegiatan-kegiatan itu begitu menyita waktuku - hingga aku tak sempat lagi ke warnet dan menelepon Dewi, maka kegiatan-kegiatan itu diprotes oleh Dewi kini.
"Andri… Andri janji ya sama Dewi, jangan cuekin Dewi lagi." Kali ini suara Dewi memecah hening di antara kami. Isak Dewi masih persatu. Untung saja tak begitu banyak orang di Café ini, hanya lima meja termasuk meja kami yang tertempati oleh pengunjung yang semuanya aku perhatikan sedang… pacaran. Ups, aku mulai muak melihat kegiatan yang kusebut barusan belakangan ini.
"Oke deh Dewi, aku nggak kan mutusin kamu. But, aku nggak suka aja kalau kamu sering cerita-cerita masalah kamu sama aku."
"Cerita-cerita masalah?"
"Iya, emangnya aku psikolog kamu?"
"Andri… kok sepertinya nggak ada hubungannya dengan pembicaraan kita selama ini? Aku tuh mempermasalahkan kegiatan kamu itu. Sampe-sampe kamu mau mutusin aku karena kamu sibuk. Nggak ada hubungannya dengan kebiasaan aku suka ngadu masalah-masalah aku ke kamu"
"Yaa gitu. Kalo kamu nggak mau diputusin, kamu harus rubah kebiasaan kamu. Kamu nggak boleh lagi mengeluh di hadapan aku."
Tampak olehku dahi Dewi berkerut tanda kebingungan mendengar ucapan-ucapanku.
"Cuma dengan tidak lagi mengeluh di hadapan kamu, kamu nggak akan mutusin aku?" Tanyanya.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Lalu kegiatan-kegiatan kamu?"
"Tetap jalan. Dan aku akan berusaha untuk tetap merhatiin kamu."
"Apa gara-gara aku sering ngeluh kamu jadi cuekin aku?"
"Nggak."
"Lho, jadi… Gimana sih maksud kamu."
"Aku ingin kamu ngaduin masalah-masalah kamu ke Uni Irna."
"Uni Irna kakak mu? Memangnya kenapa?"
"Yah gitulah. Aku cuma pengen kamu dekat dengan kakakku. Mudahkan? Kamu kan satu kampus dengan Uni Irna. Tapi itu kalau kamu mau. Kalau nggak, ya mungkin aku harus konsentrasi ke kuliah dan organisasiku. Pacarannya nanti aja kalau aku sudah nikah nanti."
"Pacaran kalau sudah nikah? Ih, aneh deh kamu Andri. Ya sudah, kalau itu syarat dari kamu, aku akan berusaha untuk dekat dengan kakakmu."
Aku melempar senyum keluar, pada hujan yang sudah agak reda meski rintik-rintik tipis masih ingin bercanda pada kulit bumi.
*****
Langkah dipercepatku menjamahi trotoar di bahu jalan Sudirman - Jalan di mana warung internet langgananku berada - ketika matahari satu jam lagi tertelan langit barat. Berikutnya setelah aku sudah berada di depan warnet Idola, aku bergegas ke dalam mencari bilik yang kosong yang - AlhamduliLlah - langsung aku temukan. Segera pada komputer yang ada dibilik itu, aku double klik icon internet explorer dan kuketik www.muslimmuda.com - web site tempat aku mendaftarkan email - pada addres di layar explorer yang telah muncul. Langkah selanjutnya adalah aku mencari email balasan dari Dewi di kotak inbox. Dan email yang aku cari itu aku temukan.
Email itu berisi tentang penerimaannya terhadap permintaan maafku yang kukirim melalui email tiga hari yang lalu. Janji kencan di Café Yayang pada sabtu sore kemarin terpaksa aku batalkan sepihak karena ada acara mabit [menginap] yang diadakan di Masjid Nurul ‘Ilmi dan waktunya pun dimulai pada Sabtu sore.
Pemaklumannya itu membuatku terkejut. Biasanya ia akan marah padaku dan dengan manja memintaku untuk memperhatikannya sebagai layaknya orang pacaran. Bukan cuma itu saja yang membuatku terkejut. Ia juga bercerita kalau ia makin dekat saja dengan Uni Irna. Ia mulai merasakan kelembutan Uni Irna yang menyentuhnya pada setiap kali ia mengadu masalah-masalah yang ia hadapi kepada Uni Irna. Ia juga bercerita kalau sebentar lagi ia akan mengenakan jilbab, sebagai suatu realisasi nasihat-nasihat Uni Irna selama ini. Jelas sekali dari suratnya, Uni Irna memiliki pengaruh yang besar sekali pada diri Dewi.
Dalam pada itu, riak-riak kekhawatiran menerpa dinding hatiku. Di satu sisi, siasatku untuk mendekatinya pada Uni Irna telah berhasil. Di sisi lain, mulai timbul ketakutan pada diriku ketika ia pada akhirnya memutuskan aku secara sepihak.
Azzamku luruh oleh nafsu yang lupa aku belenggu ketika aku mulai mengetik sebuah surat yang berisi permohonan agar ia juga tidak lupa memperhatikan aku, dan tidak sampai memutuskan aku setelah ia dekat dengan Uni Irna.
****
Jarum jam di dinding Café Yayang membentuk 120 derajat dengan Jarum pendek menunjuk ke angka delapan setelah bel jam itu berbunyi delapan kali. Aku duduk sendiri di meja dekat pintu masuk, ditemani tempias hujan yang memeluk aku yang menanti Dewi selama satu jam ini.
Rasa bosan mendekapku erat bersama rasa kesal yang menggerogoti rasa kangen pada Dewi. Sementara nasi goreng yang sudah begitu lama terhidang baru aku makan setengahnya.
Tanpa nada yang teratur, aku mengetukkan jari-jariku di atas meja. Dan setelah lima menit waktu beranjak dari delapan tepat, tanpa menghabiskan nasiku aku beranjak dari Café tersebut, kemudian menembus gerimis malam menuju sebuah warnet terdekat.
Dengan niatan ingin memarahi Dewi melalui email - karena malam ini ia telah mengingkari janjinya dan belakangan ini ia tidak pernah lagi meneleponku, aku membuka emailku setelah sebuah komputer yang tadinya menganggur aku ambil alih. Aku tak salah untuk kesal padanya. "Bukankah dahulu ia yang mengemis-ngemis padaku agar aku tidak memutusinya?" Pikirku.
Terlebih dahulu aku membuka kotak surat yang sudah seminggu ini tidak aku buka karena sibuk. Dan setelah inbox terbuka, sebuah surat bersubject "Maafkan Dewi" yang mengejutkan aku, langsung aku buka.
Assalamualaikum wr. wb.
Andri, maafkan Dewi kalau surat ini membuat Andri sedih, kesal, atau marah pada Dewi. Tapi Dewi rasa, Andri tidak akan sampai seperti itu. Karena bukankah Andri sendiri yang sengaja mendekatkan Dewi pada Uni Irna? Andri, setelah Dewi mengenal Uni Irna lebih dekat, Dewi mulai mengenal keindahan Islam. Uni Irna selalu menjawab dengan bijak kesedihan-kesedihan Dewi. Dewi diperkenalkan pada sebuah trouble solver yang bernama Islam. Dewi jadi sadar, betapanya agama yang Dewi anut selama ini begitu Dewi acuhkan sehingga keindahan-keindahannya tidak dapat Dewi nikmati. Dewi juga diajak untuk ikut kegiatan-kegiatan Islam di kampus. Sama seperti kamu, Dewi pun lama-lama mulai tertarik dengan kegiatan keislaman. Kegiatan keislaman itu sedikit banyak makin menambah luas pengetahuan keislaman Dewi. Dewi juga ikut kajian mingguan yang ada di kampus. Pokoknya, Uni Irna sukses membuat Dewi aktif di setiap kegiatan keislaman. Hingga akhirnya pada suatu saat di sebuah acara keislaman, Dewi mendengar bahwa Islam tidak mengenal pacaran. Pada mulanya Dewi ragu, Ndri. Tapi Uni Irna berhasil meyakinkan Dewi. Dan dari Uni Irna lagi, rupanya kamu juga udah tau kalau pacaran itu dilarang dalam Islam. Begitulah Andri, Dewi akhirnya punya keberanian untuk memutuskan hubungan kita. Toh rupanya syarat kamu agar Dewi dekat dengan Uni Irna bertujuan supaya Dewi siap kalau suatu waktu kamu memutuskan hubungan kita.
Andri, insya Allah, kalau Allah menghendaki pacaran kita ini akan tetap berlanjut. Tapi nanti Ndri, ketika kita sudah diresmikan oleh penghulu. Tapi selama kita belum resmi, kita berlindung saja kepada Allah dari cinta yang berasal dari nafsu. Mudah-mudahan masing-masing kita mendapatkan pasangan yang terbaik yang pilihan Allah.
Wassalamualaikum wr. wb.
Dewi
Seketika kurasakan sekujur tubuhku menjadi lemas. Aku telah kedahuluan olehnya.
______________________
Cerita ini pernah dimuat di Muslimmuda.com, tapi saat ini sudah tidak
didapatkan lagi, karena arsip cerita di musllimmuda.com tidak ada.ini di download waktu yang lalu, karena ceritanya sangat bagus.

February 28, 2008

Dewi Khayalan

Filed under: Artikel

Nih artikel juga dapet dari milis!!! emoticon

jd maaf ya klo udah pernah baca!! (habis keren juga sih!!) 

 

Dewi Khayalan
Penulis : Marsahid Agung Sasongko

Wanita Suci…
Untukmu izinkan, kugoreskan pena, merangkai kata demi kata khusus untuk dirimu.
Mungkin aku memang tak romantis, tapi apa peduliku, kau tak mengenalku dan
memang tak perlu mengenalku. Tapi… tahukah engkau? Dalam setiap jarak yang tercipta,
ada letup kerinduan yang membuncah. Kerinduan akan sentuhan cinta yang kian menipis
dalam kehidupan hari ini.kerinduan akan ‘perhiasan terindah’ di tengah semakin
rendahnya harga diri dan kemuliaan kaum yang menjadi tiang negara.

Wanita Suci…
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku temui. Kau teranggun di antara
dewi yang pernah aku jumpai. Begitu indah kau tercipta sebagai hawa.
Begitu anggun kau terlahir bagi adam. Tapi… bagiku kau bukan bunga,
tak mampu aku samakanmu dengan bunga–bunga yang terindah dan
terharum sekalipun. Bagiku manusia adalah makhluk tersempurna dan tertinggi.
Namun dirimu adalah yang tersempurna, tertinggi dan terindah karenanya
tak membutuhkan persamaan.

Wanita Suci…
Tahukah engkau? Dalam setiap lirikan yang tertatap, ada binarnya yang membekas
dan menggoreskan keinginan. Karenanya, jangan pernah kau biarkan aku
menatapmu penuh, sebab itu akan membuatku selalu mengingatmu.
Berarti memenuhi otakku dengan inginkanmu meski hanya bayang.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding anganku.
Menjadikanku berhasrat sepenuh hati, sepenuh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihan bayangmu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh dengan lumpur,
dirimu terlalu suci, terlalu mulia.

Wanita Suci…
Dalam setiap senyummu yang terkembang, ada jejaknya yang senantiasa
melintas di pikiran. Maka, jangan pernah kau tatapku penuh, bahkan kau
tak perlu lirikkan matamu untuk melihatku. Bukan karena aku bertampang macho
seperti Zorro, atau memiliki tubuh seperti Rambo. Juga bukan karena aku
terlalu indah, sama sekali bukan. Tapi karena aku seorang manipulator.
Aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku,
mengenakan pakaian sutra emas, meski diriku lebih kotor dari kubangan lumpur.
Kau memang mulia, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi karena
kau toh hanya manusia, hanya wanita biasa, meskipun kau wanita suci.

Wanita Suci…
Serapuh kelopak sang mawar yang disapa badai, seperti itulah saat aku
sendiri terpenjara sepi. Ketika semua t’lah pergi tiada peduli dengan diri ini.
Saat kunikmati hari-hari sepi tiada arti, mencari arti cinta. Saat langkahku
semakin lelah karena duniaku telah mendustakan dan menistakan arti kasih sayang.
Akhirnya aku menemukanmu saat ku bergelut dengan waktu. Kau hadir atas
nama cinta, membawa berjuta cinta dari Sang Maha Pencinta. Dalam tiap
kalimat yang terucap, ada baitnya yang menghujam dan tertanam di hati.
Saat kudengar tutur kata yang terucap, ada damai yang kurasakan.
Bening sinar wajahmu sentuh kalbuku, hilangkan semua pedih dan bimbangku.
Engkaulah yang tetap bersamaku saat ku ragu dan bimbang berpikir bisakah kembali.
Kau yang s’lalu tenangkan badai agar tetap tegar ku berjalan. Ku cinta caramu
mencintai aku, kau buka pintu hatiku. Aku tuliskan rangkaian kata sederhana ini
untuk dirimu yang s’lalu bijaksana. Pencarianku pun usai sudah.

Wanita Suci…
Aku tahu aku takkan bisa menjadi seperti yang engkau minta. Namun selama aku
masih bernyawa aku ‘kan selalu mencoba ‘tuk jadi seperti yang kau minta.
Kau telah menjadi terang dalam gelapku saat ku tersesat dan kau pun juga
menyelamatkan seluruh hidupku. Maka izinkan aku, selama aku masih hidup
di dunia akan kujaga dirimu selayaknya sang putri raja walau ku tahu kau
tak suka karena kau bisa jaga dirimu sendiri. Karena aku bangga bisa
menjadi kenangan, bisa mengenalmu, bisa mencintaimu meskipun ku tahu
dirimu bukan untukku. Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu,
meski ujung penutupmu pun aku tak pernah berani sentuh. Jangan pernah
kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli, tapi kau akan jadi wanita biasa, tak lebih,
di hadapanku jika kau kalah.

Wanita Suci…
Beri sepenuh diri pada dirinya, sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati
bawa dirimu pada Sang Maha Pencinta. Untuknya dirimu ada, itu kata otakku,
terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi. Tunggu sang lelaki suci datang
menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad. Atau kejar sang lelaki suci,
itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah. Jangan ada ragu,
jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci. Bariskan harapmu pada
istikharah sepenuh hati sedalam arti ikhlas. Relakan Allah pilihkan lelaki suci bagimu,
mungkin sekarang atau nanti bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di alam permainan saat ini.
Mungkin dirimu disiapkan untuk menjadi ‘Ainul Mardiyah bagi lelaki pilihan-Nya.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu yang kau bangun dengan
kekhusyu’an ibadah.

Wanita Suci…
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itulah pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah, karena Dia Yang Maha Mengetahui.
Mungkin kebaikan itu bukan terletak pada lelaki terpilih itu, melainkan pada
jalan yang telah kau pilih. Seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu
yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima
keputusan Sang Kekasih tertinggi. Kekasih tempat kita (seharusnya)
memberi semua cinta dan menerima yang tak terhingga dalam tiap detik hidup kita.

Wanita Suci…
Engkaulah madrasah pendidik generasi, tempat bersemai mujahid-mujahid
pengganti peluh serta darah yang telah tertumpah di hamparan bumi Islam tercinta ini.
Dirimu adalah penentram jiwa yang gundah di kala ujian dan goda datang menimpa.
Kaulah peneguh hati nan dilanda sunyi, senyummu penyejuk sanubari.
===

February 27, 2008

Kue Pernikahan

Filed under: Artikel

nih, gw dapet dari milis, pas di baca wow…

coba baca deh!! semoga berguna!!!!

Kue Pernikahan
 

Bahan :

1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

Bumbu :

1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telpon-telponan,
5 kali ibadah/hari

Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

Tips:

- Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
- Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
- Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
- Gunakan Kasih sayang cap "DAKWAH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

Cara Memasak:

- Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
- Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
- Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit di depan penghulu.
- Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.
- Kue siap dinikmati.

Catatan:

Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat.

Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek "Tempat Ibadah".

Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!
 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main